Dimana Letak Gender dalam Pelayanan Kesehatan?

Catatan: Artikel ini merupakan rangkuman dari pemaparan Sarah Hillware mengenai Agenda Kesehatan Feminis, dalam webinar Setting the #Feminist Agenda: Universal Healthcare and Women yang diadakan oleh National Women’s Council of Ireland.

Di tengah pandemi Covid-19, peran gerakan perempuan dalam kesehatan global terlihat dalam aktif mengorganisir untuk menuntut pentingnya hak kesehatan dasar. Kita bisa melihat perempuan bersolidaritas dengan secara aktif bekerja lintas batas dalam membagikan ilmu pengetahuan dan sumber daya, untuk mengorganisir kesehatan untuk semua.

Hari ini kita bisa melihat meningkatnya pengakuan global terhadap kerja perempuan, yang merupakan mayoritas dalam memberikan pelayanan kesehatan dan pelayanan sosial. Ini adalah saat yang tepat untuk perempuan memimpin.

Hillware menekan bahwa di saat ini, hak-hak perempuan dan kesetaraan gender masih dilihat hanya sebatas isu teknis dan terpisah dari isu lainnya. Ia menunjuk bagaimana pandemi global makin memperparah kesenjangan yang ada ketika kita melihat respon pemerintah yang mengatakan bahwa sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk fokus pada kesetaraan gender.

“Lantas, jika tidak sekarang, maka kapan? Jika bukan saat pandemi ini, lantas pandemi yang mana?” Hillware merespon.

Hillware mengatakan bahwa selama kesetaraan gender tidak dilihat sebagai landasan pillar sistem kesehatan, kita akan terus kelewatan tanda-tandanya.

Di saat perempuan terdampak secara tidak proporsional akibat Covid-19, Hillware menekankan bagaimana kita harus mengubah narasi dan melihat perempuan sebagai pemimpin dan bagian dari solusi, tidak sebagai korban dan penerima manfaat saja.

Pada kenyataanya, kita harus melihat bahda Universal Health Coverage (UHC) ata Cakupan Kesehatan Universal akan dilaksanakan oleh perempuan sebagai tenaga kesehatan, karena perempuan saat ini memberikan mengisi 70% angkatan kerja tenaga kesehatan serta memberikan pelayanan medis kepada 5 milyar orang dan teridri. Namun sayangnya, perempuan hanya menduduki kurang dari 25% peran kepemimpinan dalam kesehatan.

Hillware melihata bahwa untuk membangun kesehatan yang lebih baik paska pandemi, kita harus menantang kekuasaan dan privilese dalam sistem kesehatan untuk memastikan perempuan ada di atas meja penentu kebijakan, perancangan dan pelaksanaan sebagai tenaga medis.

Hillware mengatakan bahwa kita tidak akan dapat memberikan kesehatan untuk semua sampai kita dapat menjangkau perempuan dan anak perempuan yang termarjinalkan. Konsep kesehatan untuk semua harus dapat menjembatani realita lokal hingga ke dalam taraf kebijakan, serta menguatkan hak dan agensi, dan menaga keamanan akses kepada pelayanan kesehatan terutama kepada hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi.

Menurut Hillware, UHC tak akan bisa dicapai oleh negara-negara dengan pendapatan yang sekalipun tinggi hingga negara yang berpendapatan rendah, tanpa menjawab tantangan kesetaraan gender, hak perempuan dan peran perempuan dalam angkatan kerja tenaga kesehatan secara global.

Hillware menawarkan 6 poin kunci dalam melihat UHC dan kesetaraan gender yaitu:

  1. Melakukan pengarusutamaan perspektif gender dalam perancangan UHC hingga pada tahap pelaksanaan dan pengawasan, dengan misi untuk memberdayakan perempuan melalui kebijakan dan sistem kesehatan.
    Ini memerlukan perubahan radikal yang mendorong perempuan memainkan peran yang sama dan adil dalam kepemimpinan UHC dalam segala tingkatan, di dalam komunitas hingga ke taraf global.
    Kesehatan Global akan terlihat berbeda dari hari ini dan akan berbeda.
  2. Mengintegrasikan SRHR (Hak Kesehatan Reproduksi dan Seksual) ke dalam UHC, dan pada tahun 2030 memastikan perawatan dan pelayanan Hak Kesehatan Reproduksi dan Seksual.
    Ini membutuhkan aksi dan kerjasama dalam seluruh tingkatan, terutama dalam tingkatan nasional untuk mengintegrasikan Hak Kesehatan Reproduksi dan Seksual ke dalam rancangan UHC nasional dan menanamkan nilai hak terutama hak perempuan dan anak perempuan.
  3. Melindungi tenaga kesehatan terutama bidan, perawat dan tenaga kesehatan komunitas dari segala bentuk kekerasan untuk memastikan kondisi kerja yang layak, dan memastikan adanya akses untuk perempuan menentukan kebijakan.
    Hal ini dilihat dari fakta bahwa perempuan merupakan 70% angkatan kerja tenaga kesehatan. Namun masih menempati 25% peran kepemimpinan.
    Jika tenaga kesehatan hendak mewujudkan UHC, maka dibutuhkan tindakan mendesak untuk menangani kesenjangan kepemimpinan perempuan berperspektif gender, dan untuk menghilangkan bias diskriminasi, serta kurangnya kebijakan yang tidak ramah terhadap keluarga yang dapat menghambat karir perempuan dalam kesehatan.
  4. Berkomitmen untuk merekam, merekoginisi, dan memberi penghargaan terhadap kerja perawatan sosial yang tak terbayarkan, yang memiliki estimasi nilai sekitar 3 triliun dolar AS yang memberikan sumbangsih terhadap ekonomi global.
    Kita perlu menyadari bahwa sistem kesehatan kita disubsidikan oleh kerja perawatan yang tak terbayar seperti merawat orang lanjut usia.
    Selain itu kita harus memastikan perempuan berada dalam pasar tenaga kerja dan tidak berada di luar sekolah. Permasalahn ini harus bisa dijawab dalam UHC sehingga kita bisa maju ke depan, karena tentunya perempuan yang tidak sekolah tidak bisa sehat berdaya (red).
  5. Memberikan pendanaan bagi organisasi perempuan. NWCI dan WGH adalah contoh organisasi yang mengorganisir dari tingkat nasional hingga global. Namun data OECD menunjukkan bahwa pendadanaan untuk kesetaraan gender hanya 1% di tahun 2016 ke tahun 2017.
    Organisasi feminis yang memperjuangkan hak dan kesetaraan gender sleama bertahun tahun membutuhkan pendanaan jangka panjang yang berkesinambungan untuk meningkatkan kerja mereka di kesehatan dan pelayanan sosial. Selama ini UHC berusaha menyorot peran politis dan teknis yang dilakukan oleh gerakan dan organsiasi perempuan, terutama yang sejalan dengan kesetaraan gender dan UHC, dalam mengedepankan kesetaraan gender untuk memperjuangkan hak perempuan dan anak perempuan kedalam agenda UHC. Ini menjadi tolak ukur yang sangat kritis, karena pelaksanaan UHC tidak menyebtukan satu hal tentang gender.
  6. Melibatkan suara perempuan ke dalam pembicaraan UHC ini termasuk melibatkan pembahasan mengenai keseimbangan, keregaman dan inklusi gender ke dalam seluruh perbincangan.
    Kita harus memastikan perempuan dan orang-orang yang jarang terrepresentasikan berada dalam penentuan kebijakan.
    Untuk memastikan tidak ada orang lain yang tertinggal yang dari perancangan hingga pelaksanaannya.

Pada dasarnya kita bisa melihat bahwa gender dan hak perempuan dapat membangun UHC yang lebih baik untuk semua. Dan ini menjadi urusan dan tanggung jawab semua orang untuk membangun pelayanan yang lebih baik.

***

Untuk menonton webinar selengkapnya disini, atau dibawah ini:

Leave a Comment